Kehadiran Toyota C-HR semakin meramaikan industri otomotif di Tanah Air. Mobil jenis Crossover tersebut, berstatus impor utuh alias completelty built up atau CBU dari Thailand.

Padahal, Toyota sudah memiliki fasilitas produksi sendiri di Indonesia. Beberapa model yang dibuat di dalam negeri yaitu, Kijang Innova, Sienta, Yaris dan Vios terbaru, lahir di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia.

Lantas, apa alasan Toyota masih membawa Toyota C-HR dengan status impor dari Thailand?

Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono mengatakan, pabrikan Toyota sampai sejauh ini belum memutuskan untuk memproduksi mobil Crossover itu di dalam negeri.

"Kalau di kami, untuk melokalkan sebuah produk itu harus dilihat pasar domestik lebih dulu, karena itu paling penting. Pasar domestik harus menjanjikan," ujar Warih, Kamis malam, 12 April 2018.

Ia menjelaskan, saat memutuskan untuk memproduksi mobil Toyota di Indonesia, maka hal utama yang harus diperhitungkan terlebih dahulu adalah skala ekonominya.

Menurut Warih, saat membuat mobil di pabrik dalam negeri, membutuhkan investasi yang besar. Tidak hanya itu, memproduksi kendaraan di TMMIN juga melibatkan banyak pemasok komponen.

"Bicara lokalisasi produksi bukan hanya merakit produk tapi juga harus menyusun rantai pasokan. Kami tidak sendiri dalam membuat sebuah mobil," katanya.

Warih mengungkapkan, saat skala ekonomi tidak tercapai, maka dicari beragam cara atau strategi lainnya agar pabrikan tetap menghadirkan sebuah produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

"Toyota C-HR sendiri kan baru diluncurkan, kalau pasar domestik punya potensi besar, pertimbangan untuk produksi lokal besar. Sekali lagi, bicara melokalkan produk mobil bukan hanya TMMIN, tetapi juga semua pemasok kami.”